Jagalah Kebersihan

13 07 2008

Tulisan ini terinspirasi tulisan Pak Taufiq tentang tulisan-tulisannya yang dituduh kebarat-baratan karena banyak menonjolkan nilai positif yang diterapkan di negara-negara Barat yang nota bene mayoritas penduduknya adalan non Islam. 

Salah satu nilai positif yang sering kita dengar atau pernah saksikan adalah bagaimana bersihnya lingkungan, jalan, dan terutama WC di negara-negara Barat. Bagaimana WC/Toilet di negara-negara tersebut senantiasa wangi, bersih, dan nyaman untuk digunakan.  Adanya aturan untuk tidak meludah sembarangan dan sebagainya.

Mungkin kita harus sering kembali mengingatkan kepada saudara-saudara muslim lainnya bahwa Islam adalah agama yang sempurna yang banyak mengajarkan nilai positif dalam semua aspek kehidupan.
Akan tetapi seringkali hal itu dinodai oleh penganut-nya yang akhirnya di-generalisasi oleh orang di luar Islam sebagai Islam itu sendiri.

Sebagai contoh dulu saya merasa sering kecewa ketika di Indonesia banyak orang buang sampah sembarangan. Di WC masjid, yang nota bene ketika kita akan memasukinya kita bersuci terlebih dulu, kondisinya amat meprihatinkan, jorok dan bau pesing menyengat. Sampai-sampai ketika akan menggunakannya saya sampai bergidik karena tidak tahan dengan kondisi seperti itu, tapi karena terpaksa, ya dipake juga.

Dulu saya merasa bahwa gaya hidup tidak bersih ini hanya terjadi Indonesia saja. Akan tetapi saya menjadi kaget ketika ternyata di Saudi ini kondisinya juga tidak jauh berbeda.

Sebagai contoh di Masjid Kampus saya, yang nota bene gedungnya sangat megah, AC-nya sangat dingin dan hidup 24 jam, listriknya begitu terang benderang. Akan tetapi, kondisi WC dan tempat wudhu-nya begitu memprihatinkan. Sama seperti ketika di Indonesia, ketika akan menggunakan WC-nya pertama kali, saya pun bergidik, bagaimana tidak, dengan model kloset jongkok yang tidak seperti Indonesia (leher angsa/bebek ya …), saluran pembuangannya langsung lurus ke bawah dan nampaknya tidak terlalu dalam, sehingga kadang kala kotoran hasil pembungan manusia, sering kali masih tertinggal. Selain itu, jet washer-nya  sering kali tidak ditempatkan/terjatuh dari gantungannya sehingga terjuntai masuk ke lubang pembuangan..Hoekkk.

Itu baru satu tempat, berikutnya ketika ber-umrah ke Mekah. Di sepanjang perjalanan pergi maupun pulang ketika kita mampir di rest area, kondisi WC-nya pun amat memprihatinkan. bahkan saking ‘jijay’ nya kita dengan kondisi tersebut, saya dan teman-teman lebih memilih buang air di gurun dengan berbekal air minum dalam kemasan. Demikian pula ketika ber-ihram di tempat miqot. Kondisi-nya juga hampir sama.

Di Masjidil Haram pun kondisinya tidah jauh berbeda meskipun lebih lumayan. Saya pernah menanyakan ke rekan-rekan yang lain tentang kondisi tersebut, dan dijawab bahwa kondisi Masjid Haram lebih bersih di luar musim Haji. Saya agak sulit membayangkan bagaimana kondisinya jika musim haji tiba.  

Yang saya sayangkan kenapa pengelola nampaknya kurang peduli dengan hal ini. Ok-lah kalau dikatakan kebersihan WC tidak terlepas dari kebiasaan penggunanya. Jika penggunanya terbiasa membersihkan dengan baik hasil pembuangannya, maka WC-nya pun akan bersih, demikian pula sebaliknya.

Namun, apakah pengelola (khususnya di Masjid Kampus saya), tidak mampu membayar petugas kebersihan untuk selalu membersihkan WC terutama di waktu-waktu menjelang atau setelah Shalat? Dan saya sangat meragukan hal ini.  Saya jarang melihat petugas kebersihan di WC/tempat wudhu masjid ini. padahal di luar cukup banyak petugas kebersihan yang ada.  

Kadang merasa sangat gemas sekali meilhat kondisi yang demikian. Pertanyaannya siapakah yang salah dalam hal ini? Apakah guru-guru kita atau ulama-ulama kita selama ini jarang mengajarkan masalah kebersihan ini? Apakah tidak cukup ajaran untuk senantiasa bersuci menjadi motivasi untuk senantiasa menjaga kebersihan tidak hanya diri kita akan tetapi juga lingkungan tempat kita bersuci. Saya rasa dalam kajian-kajian masalah bersuci sangat perlu ditekankan hal yang demikian. Bahwasanya tidak cukup diri kita yang terbebas dari hadas dan najis, akan tetapi kondisi lingkungan tempat kita bersuci juga diusahakan semaksimal mungkin bersih dari hadas dan najis sehingga akan lebih menyempurnakan kesucian kita. Wallahu ‘Alam.


Actions

Information

4 responses

19 07 2008
nico

tak kira dsana bersih2 ee fasilitas umumnya. ternyata.. ga jauh beda.
mas hendrik, paketin air zam-zamnya yaaa:D

3 08 2008
dimas

hehehe.. gimana yah caranya merubah cara hidup orang banyak (mass population)..
bener2 susah..😦

20 08 2008
Much Tohar

Alhamdulillah kondisi WC di Masjidl Haram bersih kok Mas. Kalau kotor, itu emang dari para pengguna sendiri. Kebetulan tahun 2007 kemarin kami menunaikan ibadah haji. Kondisi yang memprihantinkan adalah sampah berceceran dimana-mana, dan untunglah para petugas kebersihan segera membersihkannya. Kalaupun masih kotor baik di WC ataupun halaman, maklumlah karena emang ratusan ribu jamaah berada di Masjidil Haram. Tetapi perlu kita cermati bahwa perilaku Jamaah Haji dari negara lain sangat berbeda dengan Jamaah Haji dari Indonesia, terutama kalau di dalam Masjid. Jamaah dari negara lain banyak yang tidak melepas sandal atau sepatu ketika masuk ke Masjid, padahal di negara Indonesia, mana ada orang berani masuk ke Masjid masih dengan mengenakan sandal. Ya, itulah manusia, beda adat juga beda kebiasaan.

Kondisi yang paling parah adalah di Mina dan Arofah, entah berapa ton sampah berserakan di mana-mana bahkan ketika prosesi di Mina dan Arofah berakhir, sampah-sampah itu masih banyak berserakan. Kami pun maklum karena memang luar biasa. Tetapi secara global, kondisi di Masjidil Haram sangatlah indah dan bagi kami, itu tidak akan lupa seumur hidup kami. Kami rindu dengan Masjidl Haram, rindu dengan Ka’bah, rindu dengan air zam-zam, rindu dengan Jamarat, rindu dengan sofa dan marwa. Semoga Allah memberikan izin bagi kami untuk menunaikan ibadah haji sekali lagi sebelum ajal menjemput kami.

20 08 2008
Hendrik

Memang betul pak secara umum kondisi masjidil haram terjaga kebersihannya. Akan tetapi yang saya ingin sampaikan adalah di masjidil haram sekalipun, umat muslim masih belum bisa menjaga diri untuk senantiasa berperilaku bersih dan tidak jorok. Saya pernah melaihat beberapa orang meludah sembarangan dan sebagainya.
Padahal sering kali disampaikan atau bahkan kita sering mendengar bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman. Akan tetapi perilaku kita umat muslim ternyata masih jauh dari yang diharapkan.
Betul pak, siapa pun yang datang ke masjidil haram tentunya akan sangat rindu kembali ke sana bahkan rela mengorbankan apa pun agar bisa ke sana. Insya Allah kita diberi kesempatan kembali ke sana Pak. Amiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: