Pimpinan yang Amanah

18 02 2008

Seharusnya setiap aparat penegak hukum maupun pejabat publik memiliki komitmen dan prinsip seperti yang ditunjukkan Kapolda Jawa Barat, sehingga Indonesia bisa bebas dari Korupsi dan mampu memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk kesejahteraan rakyat.
Berikut kutipan beritanya (dikutip dari milis UII_Dosen)

Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji,
“Jangan Pernah setori Saya”
Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008
RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno
Duadji, S.H., M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan
Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira
Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena
diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul
16.00 WIB.
Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari
10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi
perintahnya “galak” dan “menyentak”. Saking “galaknya”,
anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan
mereka menjalani perintah tersebut.
Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas,
baik di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM,
STNK, BPKB, dan lainnya). “Tidak perlu ada lagi
setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah
cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi
pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan
sebaliknya, malah ingin dilayani,” tutur pria kelahiran
Pagaralam, Sumatera Selatan itu.
Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir,
mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta
menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan
itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.
Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk
berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli.
“Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main
copot-copotan jabatan,” kata suami dari Ny. Herawati itu.
Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik
pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara
terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang
perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari
perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil
Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi
Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama
dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para
koruptor ke jeruji besi.
Berikut petikan wawancara wartawan “PR” Satrya Graha dan
Dedy Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90
negara lebih untuk belajar menguak korupsi.
Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli
atau korupsi?
Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji,
bekerja sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang
kecil-kecilan. Terbayang ¢kan betapa sulitnya membiayai 8
anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh karena itu,
saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.
Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman.
Beberapa di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti
anak pejabat. Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli
ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak
saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran
yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat
bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi
di PPATK. Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini
karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan
direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan
batin.
Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh
genderang perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?
Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli.
Kalau pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil.
Yang benar adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa
korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu,
korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup.
Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas
korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.
Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya “bersihkan” dulu
di dalam, baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya
mau menangkap bupati, direktur, dan lain-lain kalau di
dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya
korupsi, tamatlah republik ini.
Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan
tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya.
Setelah itu pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke
kapolwil, kapolres, dan seterusnya.
Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan
tertinggi di Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi
bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya.
Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau petugas
kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan
tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.
Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya
macam-macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran
dari pengusaha-pengusaha , mengambil jatah bensin bawahan,
atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya
tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau
kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang
bensin mereka.
Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah
bukan karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya
bagaimana? Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi
di instansi itu.
Untuk program “bersih-bersih” itu, kira-kira Anda punya
target sampai kapan?
Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera,
bagaimana kita menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita
tidak perlu malu dan takut nama kita jatuh kalau
bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan jatuh
merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi
berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu
di koran.
Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat.
Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda
Jabar karena semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa
tidak. Apa yang harus ditakutkan.
Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari
korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat.
Saya justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin
kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.
Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut
kasus korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya,
para penyidik tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan
mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang
mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?
Hahaha…. (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi
itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian
jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi
yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti
orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa
kemungkinan lainnya.
Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar
amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak
sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang
yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling
melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan
rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari
mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi.
Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui, itu
(memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu
nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.
Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau
jadi kapolda. Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita
inginkan langsung datang. Pertanyaannya, mau atau tidak
terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya, jelas tidak.
Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih
duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji
saya saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin
gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup.
Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya
lebih besar dari saya.
Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat
mengungkap kasus korupsi?
Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam.
Jika sudah bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan
kasus korupsi akan menjadi salah satu target kami. Kami
akan genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar.
Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk
mengusut kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan
pejabat publik. PPATK pasti mau membantu asalkan anggota
saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi
kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap “bermain”
bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama
kita, maka banyak kasus yang masuk.
Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga
korupsi digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk
itu harus tertib administrasi, salah satunya dengan membuat
sistem pelaporan perkara berbasis IT yang terintegrasi dari
polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap
ada perkara yang masuk.
Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak
mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya
saja tidak tahu, bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam
sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada klasifikasi
perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres,
dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi.
Soal lapor boleh di mana saja.
Kita juga harus mempertanggungjawab kan hal itu ke pelapor
dengan mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya
ditangani oleh penyidik ini, ini, dan ini. Kemajuannya
dilaporkan secara berkala. Ini akan menjadi standar
penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua ini
karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling
tidak suka yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian
orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib
administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar
tidak?
Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda
Jabar kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus
dengan alasan anggaran yang minim. Menurut Anda?
Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan
cukupnya. Kalau anggaran sudah habis, jangan dipaksakan
memeras orang untuk menyidik. Mencari klien yang kehilangan
barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh?
Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk
menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.
Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah.
Tidak perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau
kasat serse, lalu kasat serse setor ke kapolres, dan
kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan
pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar
tidak ada lagi sistem setoran.
Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau
kapolwil bangga karena mampu membangun kantornya dengan
megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari setoran
orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi,
dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya
hanya Rp 5-6 juta.
Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu
alasannya, ingin kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi
polisi, tetapi jadilah pengusaha.
Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra
di lingkungan kepolisian?
Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah
jelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh.
Korupsi jelas-jelas dilarang dan ancamannya bisa dipecat.
Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.
Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau
mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan
pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian
palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng ,
tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan
pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita
lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan) , sementara
rakyat macet. Itu juga korupsi.
Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi,
kalau saya korup dengan menerima setoran-setoran tidak
jelas, apa bedanya saya dengan pelacur. ***


Actions

Information

4 responses

22 02 2008
Dikkyz

Kita lihat hasilnya nanti bos. Mustinya kan tidak ada lagi palak-palakan lagi oleh polisi-polisi.

22 02 2008
Hendrik

Yup, Semoga ini juga bukan sekedar lip service saja

28 02 2008
henry

Pak Hendrik, ntar kalau sempet dan ada waktu, maen ke blog saya yach. alamatnya : http://henrylinux.blogspot.com
sya mahasiswa teknik informatika angkatan 2006 UII

28 02 2008
henry

mungkin Bapak bisa kasih masukan dan saran2 buat blog saya. atau bisa juga share.

siapa tahu bapak bisa kasih masukan atau informasi-informasi terbaru tentang IT.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: