Jakarta ohh Jakarta

21 11 2007

Akhirnya ngantor lagi setelah minggu lalu (12-16 November 2007) ambil course Oracle 10g: Administration Workshop II di Oracle University Indonesia di daerah Senayan Jakarta.

Setelah satu minggu bergulat dengan kemacetan dan kesumpekan Jakarta, bahagia rasanya balik lagi ke Jogja. Ya meskipun jalanan di Jogja juga semakin padat dan semrawut karena banyaknya sepeda motor dan kendaraan-kendaraan pribadi lainnya, tapi masih lebih nyaman tinggal di Jogja daripada di Jakarta.

Mo coba cerita dikit pengalaman di Jakarta kemaren.
Tiba di Jakarta hari Ahad pagi tanggal 11 November 2007. Setelah sarapan n bersih-bersih, aku langsung pergi lagi ke Bogor (janjian ketemuan ma sahabat lama di Bogor). Dari Kayumanis ke Gambir naik Busway kurang lebih 10 menit. Kesan pertama naek busway enak juga, cukup nyaman dan bersih n ngerasa aman. Beda kalo naek metromini or Kopaja, bawaannya deg-degan mulu. Dari Gambir naek Pakuan Express ke Bogor memakan waktu kurang lebih 1 jam perjalanan. Sesampainya di stasiun Bogor, Hafid dah nunggu di depan Matahari depan Taman Topi Bogor ternyata juga semakin padat dan lalulintasnya tambah semrawut. Selain itu banyak bermunculan mal-mal baru, seperti salah satunya yang paling mencolok adalah Botani Square yang terletak di depan Tugu Kujang. Mal ini menempati areal yang dulunya merupakan gedung perkualiahan IPB. Hmm….ternyata dunia pendidikan dah makin komersil aja ya, sampai-sampai gedung kuliah dijadiin mal…

Setelah ngobrol-ngobrol n melepas kangen dengan Hafid, akhirnya aku balik lagi ke Jakarta. Tapi sebelumnya mampir dulu donk ke Sukasari beli Asinan n Toge Goreng. Ternyata toge goreng enak juga lho… (Hehe, habis baru kali ini makan toge goreng cos dulu 4 tahun di Bogor sama sekali belum pernah nyoba Toge Goreng…).
Sampai di Jakarta lagi menjelang Ashar. Bada Ashar jalan lagi survey lokasi ke daerah Senayan make Busway. Dari Halte Tegal Genjing ke Halte Dukuh Atas (Koridor IV) kemudian ganti busway ke arah Blok M (Koridor I) turun di Halte Bunderan Senayan (depan Ratu Plaza). Setelah jalan-jalan sebentar di Plaza Senayan (numpang lewat doank …) akhirnya aku pulang lagi.

Esok harinya, Senin 12 November 2007, sebelum jam 7 aku dah berangkat. Ternyata kalo naek busway sebelum jam 7, kita cuma bayar 2000, tarif normal 3500 (irit juga ya…). Hari pertama naek busway masih lancar, dari Tegal Genjing ga terlalu padat penumpang coz petugas yang jaga di Busway-nya galak banget untuk membatasi calon penumpang yang boleh naek. Aku aja sampe dipelototin karena ngeyel tetap nekat masuk….(sorry bang, baru hari pertama training, takut telat…hehehe). Saking lancarnya perjalanan, sampai di daerah Senayan baru jam 8 kurang padahal training baru dimulai jam 9. Akhirnya ya bengong dulu deh di depan Sentra Senayan. Pulangnya cukup kaget juga coz di Dukuh Atas, antrian calon penumpang nyampe ke bagian atas jembatan penyeberangannya. Wah ternyata kayak gini tho kondisi yang sebenarnya. Wah alamat bakalan berdesak-desakan kayak ikan sarden nih pikirku. Dan ternyata benar, ga seperti waktu berangkat yang petugasnya cukup tegas membatasi penumpang, di Dukuh Atas ini malah penumpang berjubel dan berdesak-desakan. Di sini petugas agak longgar bahkan bagi yang ingin duluan dan memaksakan berdesak-desakan tetap diperbolehkan masuk. Ya wajar juga sih jam pulang kantor (saat iti sekitar jam 6), sehingga banyak yang buru-buru pengen nyampe rumah. Nah mulai sore itulah kesumpekan dan kemacetan mulai kualami dengan Busway.

Meskipun banyak yang berpendapat bahwa Busway menjadi biang kemacetan yang semakin menjadi di Jakarta, aku sendiri ga gitu sepakat. Sebenarnya aku merasa nyaman dengan menggunakan Busway cos merasa lebih aman dalam melakukan perjalanan (jadi inget waktu training tahun kemaren hampir kecopetan waktu naik kopaja), namun ketika jalur Busway juga digunakan oleh kendaraan-kendaraan lain, akhirnya tujuan dibangunnya jalur khusus itu jadi sia-sia. Jadi ya wajar kalo pengguna kendaraan pribadi masih enggan pindah menggunakan Busway. Ditambah lagi minimnya jumlah armada bus yang melayani penumpang terutama di jam-jam sibuk (berangkat dan pulang kantor) dan jarak antara satu armada dengan armada berikutnya yang terkadang cukup lama sehingga penumpang harus antri dan sabar berdesak-desakan menunggu, menjadikan naik busway tidak beda dengan naik metromini atau juga kopaja, tapi ga terlalu gerah karena pake AC. Aku rasa jika armada ditambah (terutama untuk memenuhi kebutuhan jam-jam sibuk) dan waktu tunggunya semakin kecil sehingga kenyamanan, ketepatan waktu dan kecepatan bisa dipenuhi, maka tujuan dibangunnya koridor-koridor busway untuk mengurangi kemacetan bisa terwujud.

Sekarang tinggal bagaimana pengambil kebijakan membuat langkah konkret lanjutan seperti penyediaan armada yang memadai dan terutama juga feeder-feeder busway dari daerah-daerah yang jauh dari halte busway terutama dari kota-kota satelit Jakarta, seperti Bogor, Bekasi,Depok, dan Tangerang.


Actions

Information

2 responses

5 12 2007
ryan

kena banjir gak pak? wekekeke

6 12 2007
Hendrik

Alhamdulillah gak. Sempat sih ngalamin hujan gede, sampai pohon-pohon pada tumbang n ada baliho gede yang nimpa taxi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: